Doa Penuh Air Mata

Doa Penuh Air Mata
Alturistic

28/05/10

Pengertian Konseling Lintas Budaya

Konseling Lintas Budaya

A. Pengertian

Dalam praktik sehari-hari, konselor pasti akan berhadapan dengan klien yang berbeda latar belakang sosial budayanya. Dengan demikian, tidak akan mungkin disamakan dalam penanganannya (Prayitno, 1994). Perbedaan-perbedaan ini memungkinkan terjadinya pertentangan, saling mencurigai, atau perasaan-perasaan negatif lainnya. Pertentangan, saling mencurigai atau perasaan yang negatif terhadap mereka yang berlainan budaya sifatnya adalah alamiah atau manusiawi. Sebab, individu akan selalu berusaha untuk bisa mempertahankan atau melestarikan nilai-nilai yang selama ini dipegangnya. Jika hal ini muncul dalam pelaksanaan konseling, maka memungkinkan untuk timbul hambatan dalam konseling.

Dalam mendefinisikan konseling lintas budaya, kita tidak akan dapat lepas dari istilah konseling dan budaya. Dalam pengertian konseling terdapat empat elemen pokok yaitu:

1. Adanya hubungan,

2. Adanya dua individu atau lebih,

3. Adanya proses,

4. Membantu individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Sedangkan dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu:

1. Merupakan produk budidaya manusia,

2. Menentukan ciri seseorang,

3. Manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.

Sehingga konseling lintas budaya (cross-culture counseling) mempunyai arti suatu hubungan konseling yang terdiri dari dua peserta atau lebih, berbeda dalam latar belakang budaya, nilai-nilai dan gaya hidup (Sue et al dalam Suzette et all 1991; Atkinson, dalam Herr, 1939). Definisi singkat yang disampaikan oleh Sue dan Atkinson tersebut ternyata telah memberikan definisi konseling lintas budaya secara luas dan menyeluruh.

B. Tujuan

Agar Konselor dapat menyadari keberadaan budaya klien dan sensitif terhadap kebudayaan klien, sehingga dapat menghargai perbedaan dan hal itu dapat membuat konselor merasa nyaman dengan perbedaan yang ada antara dirinya dan klien dalam bentuk ras, etnik, kebudayaan, dan kepercayaan. Dan juga supaya konselor dapat memahami bagaimana ras, kebudayaan, etnik, dan sebagainya yang mungkin mempengaruhi struktur kepribadian, pilihan karir, manifestasi gangguan psikologis, perilaku mencari bantuan, dan kecocokan dan ketidakcocokan dari pendekatan konseling.

C. Fungsi

Bagi seorang konselor, konseling lintas budaya ini berfungsi memahami dampak yang mungkin terjadi dari perbedaan budaya ini. Pengetahuan mereka tentang perbedaan komunikasi, bagaimana gaya komunikasi ini mungkin akan menimbulkan perselisihan atau membantu perkembangan dalam proses konseling pada klien, dan bagaimana cara mencegah dampak yang mungkin terjadi itu, sehingga konselor dapat mengentaskan permasalahan yang sedang dialami klien akan tetapi tidak hanya berusaha membantu klien keluar dari masalahnya saja konselor pun berusaha memelihara dan mengembangkan potensi-potensi dari dalam diri klien khususnya kesadarannya terhadap keragaman budaya sehingga akan dapat lebih menghargai agama, keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh orang lain, termasuk atribut dan hal-hal yangbersifat tabu, karena hal tersebut mempengaruhi pandangan seseorang.

Selain itu, konseling lintas budaya berfungsi membantu seorang konselor dalam melakukan pendekatan sesuai dengan keragaman budaya tersebut dalam melaksanakan konseling.

Dimensi-Dimensi Sosial Budaya

A. Pengertian

Dimensi sosial budaya merupakan sesuatu yang melekat pada kebudayaan yang diadopsi secara turun temurun oleh penerusnya dan hal ini sangat berkaitan erat dengan nilai adat istiadat.
Pada dasarnya dimensi kebudayaan sangat sulit diubah, hal ini membutuhkan proses yang berkepanjangan, karena berkaitan dengan pola pikir masyarakat dan kebiasaan yang mereka anggap benar.
Adapun nilai yang dipahami dari dimensi tersebut antara lain :

1. Nilai kebersamaan sosial yaitu masyarakat yang secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan makam dan membuat umbul-umbul.

2. Nilai religi yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik.

3. Nilai keamanan yaitu masyarakat bisa terbebas dari rasa cemas, takut ataupun khawatir sehingga akan merasa nyaman.

4. Nilai ekonomi yaitu denan tetap melaksanakan upacara masyarakat akan lebih mudah dan biasa memenuhi kebutuhan hidupnya.

B. Proses Pembudayaan

Pembudayaan yaitu proses pemberian (transfer) nilai-nilai budaya dan agama kepada seseorang, sehingga yang bersangkutan memiliki prilaku yang sopan, berbudaya, bermoral dan beretika.
Proses pembudayaan dan pengetahuan berlangsung dalam keluarga dan lingkungan sekitar yang bersangkutan.

Proses pembudayaan (enkulturasi) adalah upaya membentuk perilaku dan sikap seseorang yang didasari oleh ilmu pengetathuan, keterampilan sehingga setiap individu dapat memainkan perannya masing-masing. Proses pembudayaan terjadi dalam bentuk pewarisan tradisi budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya dan adopsi tradisi budaya oleh orang yang belum mengetahui budaya tersebut sebelumnya. Pewarisan tradisi budaya dikenal sebagai proses enkulturasi (enculturation) sedangkan adopsi tradisi budaya dikenal sebagai proses akulturasi (aculturation).

Proses pembudayaan enkulturasi biasanya terjadi secara informal dalam keluarga, komunitas budaya suatu suku, atau budaya suatu wilajah. Proses pembudayaan enkulturasi dilakukan oleh orang tua atau orang yang dianggap senior terhadap anak-anak, atau terhadap orang yang dianggap lebih muda. Tata krama, adat istiadat, keterampilan suatu suku/keluarga biasanya diturunkan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, proses akulturasi biasanya terjadi secara formal melalui pendidikan seseorang yang tidak tahu, diberi tahu dan disadarkan akan keberadaan suatu budaya, dan kemudian orang tersebut mengadopsi budaya tersebut; misalnya seseorang yang baru pindah ke tempat baru, maka ia akan mempelajari bahasa, budaya, dan kebiasaan dari masyarakat ditempat baru tersebut, lalu ia akan berbahasa dan berbudaya, serta melakukan kebiasaan sebagaimana masyarakat itu.

C. Proses Sosialisasi

Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai a process by which a child learns to be participant member of society proses dimana seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978:116). Definisi ini disajikannya dalam suatau pokok bahasan berjudul society in man; dari sini tergambar pandangannya bahwa melalui sosialisasi masyarakat dimasukkan ke dalam manusia. http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/02/proses-sosialisasi-dan-interaksi-sosial.html. Sehingga dapat kita katakan sosialisasi adalah proses seorang belajar menjadi anggota masyarakat yang berpartisifasi secara aktif.

Proses sosialisasi terjadi empat tahap yaitu :

a. Persiapan
Pada tahap ini anak mualai belajar mengambil peranan orang-orang disekeliling terutama orang yang paling dekat (keluarga)

b. Meniru
Pada tahap ini anak tidak hanya mengetahui peranan yang harus dijalankan tetapi harus mengetahui peranan yang dijalankan orang lain.

c. Bertindak
Pada tahap ini anak dianggap mampu mengambil peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat luas.

d. Menerima norma
Pada tahan ini anak telah siap menjalankan peranan orang lain, ia mulai memiliki kesadaran akan tanggung jawab.

Sosialisasi disini juga merupakan proses yang membantu individu agar belajar menyesuaikan diri bagaimana cara hidup, cara berfikir dengan kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.

D. Proses Personalisasi

Setiap pribadi adalah unik, maka tiap-tiap individu itu memiliki perbedaan satu sama lain maka ada kalanya individu ini ingin perbedaan yang ia miliki itu diakui oleh sekelilingnya dan hal itu membuatnya memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dari yang lain.

Refrensi

Prayitno. 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Jakarta: Depdikbud.

http://karyaboy.blogspot.com/2008/02/konseling-lintas-budaya.html

http://hudaita.blogspot.com/2009/09/proses-pembudayaan-melalui-pendidikan.html

http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/konseling-lintas-budaya-f34/dimensi-dimensi-sosial-budaya-t56.htm

http://abrahamzakky.blogspot.com/2009/02/proses-sosialisasi-dan-interaksi-sosial.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar